9 Januari 2009

Suara Siswa

Terus terang saya bukan orang dari keluarga mampu. namun tekad saya untuk sekolah sangat besar. dari kecil saya bercita-cita untuk merubah kehidupan keluarga saya. untuk itu saya berjuang keras menghadapi hidup.
Ketika masih SD Alhamdulillah orang tua saya masih bisa menyekolahkan saya. Namun ketika saya mau lulus saya tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah. Seketika itu saya bingung dan berfikir mencari jalan keluar. Saya tak mau menuruti kemauan orang tua saya untuk tidak sekolah. Hingga akhirnya saya menemukan jalan keluar untuk biaya pendaftaran sekolah saya waktu itu. Karena kebetulan waktu itu ada sebuah sekolah yang memberikan program khitan massal yang saya fikir mungkin dari situlah saya bisa mendapatkan sedikit uang yang cukup untuk biaya pendaftaran sekolah.
Selanjutnya setiap hari saya berangkat dan pulang sekolah jalan kaki. Meskipun jaraknya sekitar 7 km dari rumah saya saya tetap semangat. Karena saya beranggapan bahwa itu memang resiko yang harus saya terima. Meski saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang berangkal naik mobil, motor, pulang antar jemput saya tetap bahagia bisa sekolah. Dan selama itu saya juga harus sambil bekerja di sebuah kandang ayam dan di ladang untuk menyokong biaya sekolah saya selama itu. Alhamdulillah juga saya bisa menyelesaikan sekolah saya.Dan selama 3 tahun saya jalani tanpa ada rasa mengeluh. Hingga akhirnya saya lulus dari sekolah saya. Kebahgiaan saya yang sangat besar itu ternyata hanya saya rasakan sebentar saja. Karena keinginanku untuk sekolah lagi tak terkabulkan oleh orang tua saya. Malahan, beliau menodongkan sebilah golok agar saya membunuh orang tua saya jika orang tua saya harus membiayai sekolah saya. Perasaan berkelamut itu membuat hati saya tersentak. Saya benar-benar ingin sekolah, saya ingin merubah hidup keluarga saya menjadi lebih baik. Dan itulah yang saya harapkan. Tapi apalah daya jika orang tua tidak bisa. Maka dari itu saya mengambil langkah untuk tetap bisa sekolah. Dan itu mebuat orang tua saya terpukul. Hingga akhirnya ibu saya menceritakan kejadian itu kepada tetangga saya. Kemudian melalui beliau saya di daftarkan di SMA ISLAM ini dengan apa adanya saya. Dan di mohonkan bantuanya. Kegembiraan itu membuat hati saya bahagia. Ternyata saya mampu menerjang cobaan yang begitu besar. Saya bersyukur kepada Allah S.W.T yang telah menolong saya.
Sedikit cerita ini mungkin bisa dikatakan sebagai ucapan terimakasih saya kepada semua orang yang telah membantu saya, Khususnya SMA Islam Secang yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menuntut ilmu. Tidak lupa juga kepada Ibu Sri Achyati selaku kepala SMA ISLAM Secang dan Mas bahrul yang telah membantu saya selama saya tinggal di sekolah.




terimaksih SMA ISLAM Secang MGl



M Aziz Sholikhin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semakin kita diam semakin pula kita akan merasakan hati kita gelisah. kegelisahan datang dari kita sendiri. karena diam akan menghanyutkan prasangka baik kita kepada orang lain menjadi prasangka buruk.

selamat datang di SMAISEMA

Sekolah Menengah yang berpedoman oleh ilmu sosial dan ilmu agama Islam. Sejak tahun 1960-an sampai saat ini SMA ISLAM SECANG masih exis di percaya oleh masyarakat untuk mendidik putra-putrinya.